Jalan Pulang: Sebuah Catatan Perjalanan Menemukan Rumah Di Dalam Diri

Pernahkah kalian merasa berada di tempat yang ramai, dikelilingi banyak orang, namun hati kalian merasa asing? Atau mungkin, kalian pernah menatap langit-langit kamar kos di Jakarta, lalu bertanya-tanya: “Sebenarnya, apa yang sedang aku cari di sini?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi benih lahirnya album debut saya, “Jalan Pulang“.

Bagi saya, seorang laki-laki kelahiran Jombang yang mencoba merakit mimpi di kerasnya ibukota, definisi “pulang” mengalami pergeseran makna yang luar biasa. Dulu, sewaktu kecil, pulang hanyalah kata kerja: bergerak dari sekolah ke rumah, dari bermain ke rumah. Sederhana. Namun, semakin dewasa, “pulang” berubah menjadi sebuah konsep yang rumit. Pulang bukan lagi sekadar tiket kereta atau bus menuju Jawa Timur. Pulang menjadi sebuah kebutuhan spiritual untuk menemukan ketenangan yang hilang.

Mengapa “Jalan Pulang”?

Album ini saya beri judul Jalan Pulang karena isinya adalah sebuah proses. Bukan tujuan akhir. Lagu-lagu di dalamnya tersusun seperti etape perjalanan. Ada saatnya kita bersemangat memulai langkah (Aku Ingin Bercerita), ada kalanya kita tersesat dan bingung (Tak Seperti Biasanya), ada momen kita lelah dan ingin menyerah (Berhenti Sejenak), hingga akhirnya kita berdamai dengan keadaan (Sesederhana Pulang).

Saya mengerjakan album ini sendirian, mulai dari menulis lirik, merangkai nada, hingga proses produksi di depan layar komputer. Kenapa sendirian? Karena perjalanan pulang sejatinya adalah perjalanan sunyi. Saya ingin memastikan setiap petikan gitar dan setiap kata yang terucap adalah representasi paling jujur dari apa yang ada di kepala saya. Tidak ada filter industri yang berlebihan. Musiknya saya buat Pop Folk sederhana, akustik yang telanjang, agar tidak ada jarak antara saya dan kalian yang mendengarkan.

Undangan untuk Berjalan Bersama.

Album ini berisi 9 trek. Setiap trek adalah satu babak kehidupan yang mungkin juga sedang, atau pernah, kalian alami.

Tentang rindu yang seringkali kurang ajar datangnya.
Tentang hening malam yang justru berisik di kepala.
Tentang dunia maya yang membuat kita lupa menapak tanah.
Dan tentang akar, tempat kita berasal.

Melalui Jalan Pulang, saya tidak menjanjikan solusi motivasi yang muluk-muluk. Saya tidak sedang menceramahi kalian untuk menjadi kuat. Saya hanya ingin menemani. Jika hari ini kalian merasa lelah, asing, atau rindu rumah, putarlah album ini. Anggap saja kita sedang duduk berdua di teras, ditemani kopi, membicarakan hidup yang kadang lucu dan kadang perih ini.

Selamat datang di perjalanan ini. Mari berjalan, berhenti, dan pulang bersama.

Salam hangat dari saya, Jagadmanas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top