Kita hidup di zaman di mana “jarak” seolah-olah sudah dihapus oleh teknologi. Rindu orang tua? Tinggal Video Call. Kangen pasangan? Tinggal Chat. Kangen kampung halaman? Tinggal lihat Google Street View.
Tapi, mari kita jujur sejenak. Apakah piksel-piksel di layar kaca itu benar-benar cukup?
Bagi saya, seorang perantau yang terpisah ratusan kilometer dari rumah dan orang-orang tersayang, jawabannya adalah tidak. Ada frekuensi rasa yang tidak bisa dihantarkan oleh sinyal 5G. Ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh emoji peluk.
Lagu ketiga di album Jalan Pulang, “Titip Rindu Lewat Angin dan Awan”, lahir dari rasa frustrasi manis itu. Frustrasi karena tangan ini tidak cukup panjang untuk memeluk, dan manis karena ternyata saya masih punya hati yang bisa merindu sedalam itu.
Mari kita bedah bagaimana saya mengubah ketidakberdayaan itu menjadi sebuah lagu.
Kembali ke Cara Purba: Bicara pada Semesta
Ketika teknologi gagal memuaskan dahaga rindu, saya kembali ke cara yang paling purba: Berbicara pada Alam.
Saya membayangkan, bagaimana orang-orang zaman dulu menyampaikan rindu sebelum ada telepon? Mereka mungkin menatap bulan yang sama, atau merasakan angin yang sama. Konsep itulah yang saya bawa ke lagu ini.
“Angin ke mana / Kau bawa rinduku / Yang ku titipkan untuknya”
Di bait pembuka ini, saya mempersonifikasikan Angin sebagai satu-satunya kurir yang bisa saya percaya. Angin itu tidak terlihat, tapi ia terasa. Ia bisa menyelinap ke celah jendela kamar kos saya di Jakarta, dan mungkin, angin yang sama akan berhembus membelai wajah orang yang saya rindukan di sana.
Kata “Titip” di sini sangat krusial. “Menitip” adalah tindakan melepaskan kontrol. Saya sadar saya tidak bisa memaksakan kehadiran fisik saya. Maka, saya menyerahkan (pasrah) perasaan ini kepada semesta. “Tolong sampaikan, karena aku tak mampu.”
Awan sebagai Payung Peneduh
Jika angin adalah kurirnya, maka awan adalah pelindungnya.
“Dan awan teduhlah / Menghapus gelisah”
Seringkali, rindu itu sifatnya menggelisahkan. Rindu yang tidak tersampaikan bisa berubah menjadi cemas, curiga, atau sedih. Di lirik ini, saya meminta kepada Awan untuk menjadi “Teduh”.
Saya ingin rindu yang sampai ke sana bukanlah rindu yang menyiksa, melainkan rindu yang meneduhkan. Saya ingin orang di sana merasa tenang, bukan merasa bersalah karena kita berjauhan. “Menghapus gelisah” adalah doa agar hubungan jarak jauh ini tetap dilandasi ketenangan batin, bukan drama.
Ketakutan Terbesar Seorang Perantau
Namun, di balik lirik yang terdengar puitis dan tenang, terselip sebuah ketakutan bawah sadar yang mungkin dirasakan semua anak rantau.
“Semoga langit tak menghitam”
Secara harfiah, langit hitam berarti mendung atau badai. Tapi secara metafora, “Langit Hitam” adalah simbol dari Kabar Buruk.
Tidak ada yang lebih meneror hati seorang perantau selain dering telepon di tengah malam yang membawa kabar duka. Ketakutan bahwa kita tidak ada di sana saat orang tersayang membutuhkan kita. Ketakutan bahwa kita akan terlambat pulang.
Maka, baris “Semoga langit tak menghitam” adalah sebuah mantra tolak bala. Sebuah harapan agar semesta menjaga mereka tetap baik-baik saja sampai saya bisa pulang nanti.
Mengubah Rasa Sakit Menjadi Harapan
Saya ingin “Titip Rindu Lewat Angin dan Awan” menjadi lagu tentang Harapan.
Meskipun rindu itu menyakitkan, rindu juga adalah bukti bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Kita punya tempat untuk pulang. Kita punya orang untuk dicinta.
Jadi, jika saat ini kalian sedang berjauhan dengan seseorang, entah itu orang tua, pasangan, atau sahabat dan kalian merasa video call saja tidak cukup, cobalah keluar ruangan. Rasakan angin yang berhembus di wajah kalian.
Tutup mata, dan titipkan rindu kalian di sana. Siapa tahu, angin itu benar-benar akan menyampaikannya.
Karena sejauh apapun jarak memisahkan, kita masih bernaung di bawah langit dan awan yang sama.