Di Balik Lagu Sementara Tak Ada Suara, Jagadmanas: Ketika Keheningan Menjadi Suara Paling Berisik

Pukul 02.00 pagi.

Lampu kamar sudah padam. Suara kendaraan di jalan raya sudah senyap. Notifikasi di ponsel sudah berhenti berkedip. Dunia sedang istirahat. Tapi anehnya, di tengah kesunyian yang absolut itu, kepala saya justru terasa seperti pasar malam. Ramai, berisik, dan penuh dengan lalu-lalang pikiran.

Selamat datang di latar belakang terciptanya trek ke-4 di album Jalan Pulang: “Sementara Tak Ada Suara”.

Jika lagu sebelumnya (Titip Rindu Lewat Angin dan Awan) adalah tentang mengirimkan perasaan ke luar, lagu ini adalah tentang menarik perasaan itu ke dalam. Ini adalah lagu untuk para insomniac, para overthinker, dan siapa saja yang sering terjebak dalam pertempuran antara logika dan hati di sepertiga malam.

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik “sunyi” itu.

Teror dari Dinding Kamar

Lagu ini dibuka dengan sebuah observasi sederhana namun menusuk:

“Jam dinding hanya menatap tak ada jawaban”

Pernahkah kalian merasa detak jarum jam di malam hari terdengar jauh lebih keras dari biasanya? Tik… Tok… Tik… Tok…

Bagi orang yang sedang gelisah, suara itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda keterlambatan. Terlambat tidur, terlambat sukses, terlambat bertemu, terlambat pulang. Jam dinding itu seolah menatap dengan dingin, tidak peduli pada kegelisahan kita, dan tidak memberikan jawaban apa-apa.

Di baris selanjutnya, saya menulis:

“Sunyi bukan tanpa suara, bisiknya terpendam”

Inilah inti dari lagu ini. Kita sering mengartikan “sunyi” sebagai ketiadaan suara (decibel). Tapi secara psikologis, sunyi adalah momen di mana suara-suara yang seharian kita tekan, suara kekhawatiran, suara rindu, suara penyesalan, akhirnya mendapat panggung.

Siang hari kita bisa lari dari perasaan itu dengan kesibukan kerja atau nongkrong. Tapi di malam hari? Tidak ada tempat bersembunyi.

Pemberontakan Hati Terhadap Logika

Bagian paling krusial dan personal dari lagu ini ada pada spoken word atau monolog batin yang saya selipkan:

“Jika kau mendengar, diamlah. Aku sedang bicara dengan rindu”

Mungkin banyak yang bertanya, kepada siapa saya bicara? Siapa yang saya suruh diam?

Jawabannya: Saya menyuruh Logika saya untuk diam.

Seringkali, otak kita terlalu keras pada hati kita. Saat kita sedih, otak bilang: “Ah, jangan cengeng. Lemah banget sih.” Saat kita kangen seseorang yang jauh, otak bilang: “Ngapain kangen? Buang-buang waktu. Tidur sana!”

Logika selalu berusaha merasionalisasi perasaan agar kita terlihat “kuat”. Tapi malam itu, saat menulis lagu ini, saya merasa muak menjadi kuat. Saya ingin menjadi manusia.

Kalimat “Aku sedang bicara dengan rindu” adalah proklamasi kemerdekaan hati saya. Saya ingin memberi ruang bagi rasa rindu itu untuk duduk, bicara, dan didengarkan, tanpa diinterupsi oleh rasionalitas. Saya ingin menikmati rasa sakitnya merindu, karena itulah bukti bahwa saya masih punya rasa.

Menemukan Teman dalam Sepi

Saya ingin pendengar merasakan atmosfer kamar yang senyap itu. Saya ingin kalian tidak hanya mendengarkan melodi saya, tapi juga mendengarkan isi kepala kalian sendiri saat lagu ini diputar.

Sebuah Undangan untuk Merasa

Saya menempatkan “Sementara Tak Ada Suara” di tengah album sebagai fase kontemplasi. Setelah kita lelah berjalan dan mencoba menitipkan rindu, ada kalanya kita harus diam dan menghadapi perasaan itu sendirian.

Lagu ini bukan solusi untuk insomnia kalian. Lagu ini mungkin tidak akan membuat kalian cepat tidur. Tapi setidaknya, lagu ini ingin menemani kalian begadang.

Agar kalian tahu, bahwa di jam 2 pagi yang sunyi itu, kalian tidak sendirian merasakan berisiknya isi kepala. Ada saya, dan ada lagu ini, yang mengerti betapa bisingnya sebuah keheningan.

Nikmatilah rindunya. Biarkan logikanya tidur sebentar.

 

Jagadmanas - Sementara Tak Ada Suara (video lirik)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top