Di Balik Lagu Dunia Suka-Suka, Jagadmanas: Tamparan Keras untuk Kehidupan Maya Kita

Setelah kita menepi dan mengambil napas di lagu Berhenti Sejenak, perjalanan Jalan Pulang berlanjut. Namun, kali ini saya tidak mengajak kalian menyelami hati saya, melainkan mengajak kalian membuka mata lebar-lebar melihat dunia di sekitar kita. Atau lebih tepatnya: dunia di dalam genggaman kita.

Trek ketujuh, Dunia Suka-Suka, adalah anomali di album ini.

Jika lagu lain bernuansa melankolis dan puitis, lagu ini adalah kritik sosial yang saya bungkus dengan nada yang mungkin terdengar santai, tapi liriknya menyindir. Ini adalah potret kejenuhan saya melihat bagaimana kita, manusia modern, berperilaku di internet.

Mari kita bedah realitas semu yang saya tuangkan dalam lagu ini.

Topeng Digital: Menjadi Siapa Saja

Lagu ini dibuka dengan fakta yang tak terbantahkan:

“Dunia maya / Membuat kita / Menjadi siapa saja”

Internet adalah panggung sandiwara terbesar dalam sejarah manusia. Di sana, seorang pemalu bisa menjadi garang. Seorang yang sedih bisa terlihat paling bahagia. Kita punya kuasa penuh untuk mengkurasi hidup seperti apa yang ingin kita pamerkan.

Namun, di balik kebebasan “menjadi siapa saja” itu, ada harga mahal yang harus dibayar: Hilangnya Identitas Asli.

Saat menulis lirik ini, saya bertanya pada diri sendiri: Apakah profil media sosial saya benar-benar merepresentasikan ‘Anas‘ yang sesungguhnya? Atau itu hanya potongan-potongan terbaik yang sudah diedit agar terlihat sempurna?

Kita sibuk membangun persona, sampai lupa merawat jiwa. Kita menjadi asing dengan diri sendiri karena terlalu asyik memainkan peran.

Senjata Tak Kasat Mata: Melukai Siapa Saja

Masuk ke bait selanjutnya, kritik saya menjadi lebih tajam:

“Dunia maya / Membuat kita / Melukai siapa saja”

Ini adalah sisi gelap dari anonimitas. Layar kaca memberikan ilusi keamanan, seolah-olah kata-kata yang kita ketik tidak memiliki dampak nyata.

Kita melihat fenomena cyberbullying, komentar jahat, penghakiman massal, dan cancel culture. Orang dengan mudah mengetik kalimat menyakitkan kepada orang asing yang tidak pernah mereka temui, hanya karena berbeda pendapat. Empati kita tumpul karena kita tidak melihat air mata orang yang kita sakiti. Kita tidak melihat bahu mereka yang bergetar. Kita hanya melihat teks di layar.

Lirik “Melukai siapa saja” adalah pengingat bahwa di seberang layar sana, ada manusia hidup yang punya hati.

Ilusi Kebebasan yang Semu

Bagian chorus lagu ini merangkum judulnya:

“Kita hidup di dunia yang tak nyata / Seolah, suka-suka kita”

Frasa “Suka-suka kita” menggambarkan mentalitas wild west. Tanpa aturan, tanpa tata krama, tanpa konsekuensi. “Akun-akun gue, terserah gue dong mau ngomong apa.”

Tapi, perhatikan baris sebelumnya: “Kita hidup di dunia yang tak nyata”.

Sebebas apapun kita di sana, itu tetaplah dunia yang tak nyata. Likes tidak bisa memelukmu saat kamu sedih. Followers tidak akan datang saat kamu sakit. Viralitas tidak menjamin ketenangan batin. Kita sedang berlomba-lomba menjadi raja di sebuah kerajaan awan yang bisa hilang dalam sekejap jika servernya mati.

Mantra Penutup: Fana, Fana, Fana

Lagu ini saya tutup bukan dengan kesimpulan manis, melainkan dengan sebuah penekanan teologis/filosofis yang saya ulang tiga kali:

“Fana, Fana, Fana”

Kenapa tiga kali? Agar menancap di kepala.

Kata “Fana” berarti sementara, rusak, dan akan binasa. Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri (dan kalian) bahwa segala hiruk-pikuk digital ini, pujian, hujatan, pencitraan, semuanya fana. Tidak abadi.

Jangan sampai kita menukar hal yang abadi (ketenangan hati, hubungan nyata dengan keluarga, ibadah) dengan hal yang fana (validasi internet).

Pesan untuk Pulang ke Realitas

Saya menempatkan lagu ini di trek 7 sebagai Reality Check.

Sebelum kita benar-benar “pulang” di akhir album nanti, kita harus membersihkan diri dulu dari racun-racun digital ini. Kita harus sadar bahwa rumah kita yang asli bukanlah di Instagram, bukan di TikTok, bukan di X.

Rumah kita adalah di sini. Di dunia nyata. Di mana kaki kita memijak tanah.

Jadi, setelah mendengarkan lagu ini, saya punya satu tantangan kecil buat kalian: Taruh HP kalian. Matikan datanya sebentar. Lihatlah orang di sebelah kalian, ajak bicara, tatap matanya. Atau sekadar lihatlah langit sore secara langsung, bukan lewat layar kamera.

Kembalilah menjadi manusia seutuhnya. Bukan sekadar akun.

Jagadmanas - Dunia Suka Suka (video lirik)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top