Di Balik Lagu Jombang, Jagadmanas: Menolak Lupa Pada Akar Tempat Saya Tumbuh

Dalam industri musik, ada semacam aturan tak tertulis: “Buatlah lirik yang universal agar semua orang bisa merasa relate.” Jangan terlalu spesifik, nanti pendengar dari kota lain merasa asing.

Namun, di trek kedelapan album Jalan Pulang, saya melanggar aturan itu.

Saya memberi judul lagu ini dengan satu kata yang tegas: “Jombang”.

Bukan “Kota Kecil”, bukan “Kampung Halaman”, tapi “Jombang”. Mengapa? Karena saya ingin menancapkan bendera identitas saya dalam-dalam. Jombang bukan sekadar koordinat geografis di peta Jawa Timur. Jombang adalah rahim tempat mimpi-mimpi saya dikandung dan dilahirkan. Tanpa Jombang, tidak ada Jagadmanas.

Lagu ini adalah surat cinta, sekaligus janji suci seorang perantau kepada tanah yang membesarkannya.

Status “Sementara” di Kota Orang

Lagu ini dibuka dengan sebuah deklarasi status:

“Jombang / Aku tinggal sebentar / Pergi rantau ke kota / Tunggu aku di sana / Aku sementara”

Perhatikan kata “Sementara”.

Bagi banyak orang, merantau ke Jakarta (atau kota besar lainnya) adalah tujuan akhir. Sukses di sana, beli rumah di sana, menua di sana. Tapi bagi saya, Jakarta hanyalah halte. Jakarta adalah tempat saya menempa diri, tempat saya bertarung, tempat saya mencari bekal.

Tapi status saya di ibukota tetaplah “tamu”.

Lirik “Aku tinggal sebentar” adalah cara saya menjaga ego agar tidak lupa daratan. Sehebat apapun pencapaian di kota rantau, kaki saya tidak boleh tumbuh akar di sana. Hati saya sudah tertinggal di Jombang, dan suatu saat, raga saya harus menyusulnya.

Metafora Kunang-Kunang: Melawan Nostalgia Semu

Masuk ke bagian verse kedua, saya menggunakan metafora yang menurut saya paling visual di album ini:

“Jombang / Bukan kota kenangan / Yang hanya ‘tuk dikenang / Seperti kunang-kunang / Telah menghilang”

Seringkali, perantau terjebak dalam romantisme masa lalu. Kampung halaman hanya dianggap sebagai “kenangan masa kecil”. Indah untuk diingat, tapi tidak untuk ditinggali.

Saya menolak anggapan itu.

Saya menyamakan kenangan masa lalu itu seperti kunang-kunang. Kunang-kunang itu indah, bercahaya di tengah gelap, tapi usianya pendek. Ia muncul sebentar lalu menghilang. Jika saya menganggap Jombang hanya sebagai kenangan, maka Jombang akan hilang dari hidup saya seperti kunang-kunang itu.

Saya tidak mau Jombang hanya menjadi nostalgia. Saya mau Jombang menjadi Masa Depan.

Sebuah Janji yang Diulang-ulang

Bagian chorus lagu ini sangat sederhana, tapi dinyanyikan dengan keyakinan penuh:

“Nanti, ku kembali / Pasti, ku kembali”

Ini bukan sekadar lirik. Ini adalah ikrar.

Kata “Pasti” di sini mengandung beban tanggung jawab. Saya berjanji pada keluarga saya, pada teman-teman masa kecil saya, dan pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak akan membiarkan kota besar menelan saya bulat-bulat.

Ada nuansa spiritual dalam janji ini. Kembali ke Jombang berarti kembali ke kesederhanaan. Kembali ke nilai-nilai hidup yang murni, yang mungkin sering tergerus oleh ambisi dan kompetisi di kota besar.

Jombang-mu Ada di Mana?

Meskipun lagu ini berjudul “Jombang”, saya percaya setiap dari kalian punya “Jombang”-nya masing-masing.

Mungkin bagi kalian itu adalah Makassar, Brebes, Banjarnegara, Palembang, Medan, Pontianak, Samarinda, atau desa kecil di kaki gunung yang namanya jarang terdengar di berita. Tempat di mana kalian bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu memakai topeng profesional. Tempat di mana orang-orang mengenal nama kecil kalian, bukan jabatan kalian.

Lagu ini saya persembahkan untuk kalian, para perantau yang sedang berjuang di kota orang.

Jangan pernah malu dengan asal-usulmu. Jangan pernah menyembunyikan logatmu. Dan yang terpenting, jangan pernah lupa jalan pulang. Karena sejauh apapun burung terbang, ia butuh sarang untuk istirahat. Dan sarang saya, selamanya, adalah Jombang.

Sampai jumpa di rumah.

 

Jagadmanas - Jombang (video lirik)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top