Segala sesuatu yang bermula, pasti akan berakhir. Setiap perjalanan, pasti memiliki tujuan. Dan bagi album Jalan Pulang, tujuannya bukanlah sebuah tempat di peta, melainkan sebuah kesadaran di dalam dada.
Kita telah berjalan jauh.
Kita memulainya dengan kebingungan di “Aku Ingin Bercerita“.
Kita melewati fase mati rasa di “Tak Seperti Biasanya“.
Kita menitipkan rindu pada alam, bergulat dengan insomnia, meledak dalam emosi, hingga akhirnya belajar berhenti sejenak dan mengingat akar di “Jombang“.
Kini, sampailah kita di muara. Trek ke-9: “Sesederhana Pulang”.
Lagu ini adalah rangkuman dari semua air mata dan keringat yang tertumpah di delapan lagu sebelumnya. Jika lagu-lagu sebelumnya penuh dengan pertanyaan, lagu ini adalah jawabannya. Dan ternyata, jawaban atas rumitnya kehidupan itu sangat sederhana.
Mari kita bedah makna di balik penutup perjalanan ini.
Tersesat untuk Menemukan
Lagu ini dibuka dengan pengakuan yang mungkin terdengar familiar:
“Aku berjalan tak tau entah ke mana / Mencari tanda yang hilang untuk pulangnya”
Sekilas, lirik ini mirip dengan kebingungan di lagu pertama. Tapi rasanya beda. Di lagu pertama, ketidaktahuan itu disertai rasa cemas (anxiety). Tapi di lagu terakhir ini, ketidaktahuan itu disertai rasa berserah (surrender).
Saya menyadari bahwa selama ini saya berjalan mencari “tanda”. Saya mencari definisi sukses, mencari definisi bahagia, mencari validasi orang lain. Saya pikir itulah jalan pulang. Ternyata, tanda-tanda itu hilang karena memang bukan itu yang harus saya cari.
Destinasi Bernama Hati
“Kepada hati, yang lama menunggu / Ataukah diri, yang telah merindu”
Di baris ini, subjek tujuan mulai terkuak. Ternyata, yang paling lama menunggu saya untuk “pulang” bukanlah rumah orang tua saya, bukan kekasih, melainkan Hati saya sendiri.
Selama merantau dan sibuk mengejar ambisi duniawi, saya sering menelantarkan hati saya. Saya membiarkan dia kosong, lelah, dan kering. Lagu ini adalah momen rekonsiliasi. Momen di mana saya mengetuk pintu hati saya sendiri dan berkata: “Maaf aku pergi terlalu lama. Aku pulang sekarang.”
Definisi Pulang yang Cair
Bagian chorus adalah inti sari dari filosofi hidup saya saat ini:
“Sesederhana pulang / Entah ke pelukan / Atau ke pangkuan / Dirinya”
Perhatikan kata “Sesederhana”. Manusia hobi sekali memperumit hidup. Kita membuat syarat-syarat yang berat untuk bisa bahagia. “Aku baru bisa pulang kalau sudah kaya.” “Aku baru tenang kalau sudah punya ini dan itu.”
Lagu ini menampar saya: Tidak. Pulang itu sederhana.
Lalu, ke mana kita pulang? Di sini saya memberikan dua opsi yang melambangkan dimensi kehidupan manusia:
-
- Ke Pelukan: Ini adalah dimensi horizontal (hubungan dengan manusia). Pulang ke pelukan ibu, pelukan pasangan, pelukan keluarga. Pulang ke kasih sayang manusia yang tulus.
-
- Ke Pangkuan Dirinya: Ini adalah dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan). Kata “Dirinya” dengan huruf kapital merujuk pada Sang Pencipta.
Pada akhirnya, “Pangkuan Tuhan” adalah tempat pulang yang paling abadi. Kesadaran bahwa kita semua adalah musafir yang suatu saat akan kembali kepada-Nya, membuat masalah-masalah duniawi terasa kecil dan remeh.
Lingkaran yang Sempurna
Saya ingin ketika lagu ini berakhir, ada hening yang panjang di telinga kalian. Sebuah hening yang melegakan.
Jika di awal album kalian bertanya “Aku ini siapa?”, saya harap setelah mendengarkan “Sesederhana Pulang”, kalian bisa menjawab: “Aku adalah hamba yang sedang berjalan pulang.”
Epilog
Terima kasih telah menemani saya dalam perjalanan Jalan Pulang.
Album ini bukan lagi milik saya. Sekarang, album ini adalah milik kalian.
Jika kalian sedang tersesat, putarlah trek 1.
Jika kalian sedang rindu, putarlah trek 3 atau 5.
Jika kalian lelah, putarlah trek 6.
Dan jika kalian sudah siap untuk berdamai dengan segalanya, putarlah trek 9 ini.
Semoga kita semua sampai di tujuan dengan selamat. Entah itu di pelukan orang tersayang, atau di pangkuan ketenangan yang abadi.
Selamat pulang.
Salam hangat, Jagadmanas