Satu Cahaya
Berawal dari ketiadaan yang sedang saya alami, ketiadaan yang pastinya dirasakan oleh semua orang. Ketiadaan itu menjadi pukulan yang sangat berat. Kepergian seseorang yang sangat berarti, membuat Satu Cahaya dalam kehidupan saya menghilang.
Cahaya yang mengisi segala titik kosong dalam ruang hampa. Cahaya yang selalu menerangi ketika langkah ini tak tentu arah. Cahaya yang akan tetap bersinar walau sinarnya kini tak lagi terlihat. Cahaya itu kini hanya akan bersinar dalam tempat terdalam di ruang rindu. Cahaya yang tak akan pernah padam untuk saya, walau kini cahaya itu sudah tak berada di samping saya.
Entah kuat atau tidak, saya tetap harus melanjutkan perjalanan ini,
sebuah perjalanan yang saya sendiri tak akan pernah tau berujung dimana.
Adakah cahaya lain yang mungkin akan menyamai cahayanya?
ataukah hanya setitik cahaya yang mungkin
bisa menunjukkan sebagian dari dirinya,
atau mungkin akan ada cahaya yang sangat terang
yang hanya sebatas dapat mengobati kerinduan akan cahayanya.
Yang pasti tak akan pernah ada yang mampu menggantikan cahayanya.
karna cahaya itu telah menemani sejauh kaki ini melangkah, sepanjang jalan terbentang,
atau mungkin tak ada kata-kata yang dapat melukiskan keberadaannya.
Namun selama kaki ini tetap melangkah,
cahaya itu akan tetap bersinar menerangi langkah ini.
Salamku untukmu yang sudah tak bersamaku.
Aku Rindu Cahayamu….
30 Mei 2015 – Jagadmanas